Kamis, 09 Mei 2019

Tips Puasa Untuk Ibu Menyusui

      Bahagia berjumpa lagi dengan Ramadhan. Alhamdulillah.
Dan bahagia lagi karena Ramadhan kali ini ditemani bayi kecil bernama Nasha. Bukan bayi lagi sih ya...udah 12 bulan...udah batita.
Intinya, Ramadhan kali ini saya masih menyusui dan akan berpuasa.
Sudah cari info sana-sini soal tips puasa bagi ibu menyusui, dan salah satuya nemu soal air nabeez ini.
Jadilah saya mempraktekkannya.



Air nabeez adalah air rendaman kurma. Ada yang bilang itu semacam infused water kurma.
Cara membuatnya adalah ambil beberapa biji kurma, diutamakan berjumlah ganjil, bisa 3, 5, 7 dst. Lalu taruh digelas, tuangi air matang, lalu tutup dan simpan di kulkas, atau bisa juga di suhu ruang.
Diamkan selama kurang lebih 8 jam.
Jadi kalau mau diminum saat sahur, buatnya saat buka puasa, dan sebaliknya.
Dan musti dicatet nih, air nabeez harus selalu baru ya, jangan kelamaan merendamnya, karena nanti akan terfermentasi dan itu tidak bagus efeknya.
Saya baru dua kali membuatnya.
     *Yang pertama 3 biji kurma direndam air putih dan dibiarkan disuhu ruang.
Minumnya diaduk dulu. Mmm...menurut saya kurang manis, dan kurang pas lah.
     *Lalu berikutnya saya coba 5 biji kurma, direndam air putih lalu dimasukkan dikulkas 8 jam. Saat sahur tiba, saya keluarkan dari kulkas dulu beberapa saat supaya tak terlalu dingin.
Saat meminumnya tidak saya aduk.
Seger...rasanya seperti air dingin biasa sih,
Tapi lalu ada "surprising taste"nya yaitu manisnya kurma. Enak. Saya suka yang kedua ini. O ya...kurmanya dimakan begitu aja kok, memang lebih lembut karena sudah direndam.
Sebenarnya, ada yang meresepkan dengan menambah susu, lalu diblender. Saya belum mencoba itu sih walau sepertinya enak, apalagi saya memang suka susu.
Hanya saja memang ada perbedaan pendapat soal air nabeez dicampur susu ini. Saya memilih nggak pakai susu karena relatif lebih aman bagi yang punya gangguan asam lambung.
Nah, soal khasiatnya, kalau dikaitkan dengan produksi ASI, alhamdulillah cukup untuk bayi saya, dia nggak rewel, menyusui lancar seperti biasanya. Nggak kekurangan walau saya berpuasa, apalagi Nasha sudah MPASI menu keluarga. Kurang tau kalau bayinya masih ASI ekslusif atau dibawah 6 bulan, mungkin ada yang punya pengalaman? Share ya!!
Nah, selain bagus untuk menyusui, sepertinya air nabeez ini bagus juga untuk stamina dan pencernaan, bener nggak sih?
Soalnya itu yang saya rasakan. Nggak lemes, nggak beda sama hari-hari biasa. Tetep strong aja ngurusin tiga bocah ...hehe
Juga nggak ada perih-perih lambung. Biasanya kalau nggak makan, sekitar jam 10an gitu perut udah nggak nyaman, perih. Ini enggak loh. Nyaman aja, dan saya seneng banget.
Itu cerita saya soal air nabeez untuk ibu menyusui.
Lalu soal bagaimana makan saat sahur atau berbuka puasa, bagi ibu menyusui juga perlu disiasati. Karena selain makannya musti banyak eh...musti cukup ya😁, dan bervariasi, minumnya juga harus cukup, kebutuhan cairan terpenuhi.
Padahal saya bukan termasuk orang yang bisa makan banyak dalam satu waktu makan. Gampang kenyang. Apalagi saat buka puasa. Sehingga saya harus nyicil makannya ( kredit kaliii pakai cicilan..hihi).
Maksudnya bertahap. Saya memindahkan waktu aja sih, yang biasa makan, minum, ngemil di siang hari, pindah ke malam hari. Sehingga makan tetap 3x sehari, ditambah makanan selingan atau camilan dan tentu saja air putih yang cukup, plus minuman lain, jus dll. Pasti bertanya-tanya, ni orang makannya sebanyak itu gimana caranya? Hehe...sekali lagi saya bilang, dicicil.
Lalu, apa semaleman makan terus, nggak tidur? Ya tidurlaah..walau memang jam tidur malamnya agak berkurang. Tapi bisa diatur. Siang juga cari waktu untuk tidur siang.
Satu lagi tips untuk ibu menyusui agar lancar produksi ASInya, yaitu tetap bahagia, menikmati perannya, menikmati aktifitasnya.
     Itu cerita saya. Cerita Anda gimana? Semoga tetap lancar ya puasanya.


Sabtu, 08 Desember 2018

Plasenta tersisa


Halo...
Lama tidak menulis. Sibuk sih...sibuk momong bayi.
Jadi ceritanya, saya punya anak ketiga nih. Alhamdulillah dikaruniai anak perempuan, setelah dua anak sebelumnya laki-laki semua.
Lumayan lancar sih semuanya. Tapi ada beberapa hal nih yang pingin saya share.
Jadi, kehamilan saya yang ini terjadi di usia saya yang sudah tidak muda lagi, lebih dari 35 tahun. Itulah mengapa begitu saya tau saya hamil lagi, saya langsung mengajukan pengunduran diri alias resign dari kantor dan pekerjaan tercinta. Berat siiih...tapi kan saya harus sadar diri bahwa saya sedang hamil di usia riskan. Jadi tidak boleh capek, tidak boleh stres..itu aturan saya sendiri. Kesadaran..hehe
      Minggu demi minggu kehamilan, semua lancar kok. Sampai tiba due date 5 Mei 2018. Tapi belum lahir juga...dan si baby punya tanggal sendiri ternyata, 7 Mei 2018 baru dia lahir. Kalau bayi perempuan katanya sih memang sering mundur dari tanggal perkiraan..ya nggak sih? 
Bahagia dong, bisa lahiran normal, bayinya perempuan pula. Nah..tiga hari kemudian saat kontrol posisi rahim, bidan ( saya lahirannya ditolong bidan ) mengatakan kalau tinggi fundus saya kok masih belum normal. Beruntung hari itu juga langsung di-USG sama dokter kandungan, dan dinyatakan ada sisa plasenta yang masih tertinggal, sehingga harus dilakukan kuretase. Sedih nggak sih...karena artinya harus nginep RS kan...ninggalin bayi saya di rumah untuk 1-2 hari..
Tapi ya memang harus dijalani. Saya menjalani kuretasi di rumah sakit dan meninggalkan bayi saya dua malam. Tapi kebutuhannya akan ASI tetap terpenuhi kok. 
Walaupun saya juga mengkonsumsi obat-obatan setelahnya, tetep aman untuk ibu menyusui. Sayangnya saya lupa mencatat jenis obatnya.
Setelah usai proses dan pemulihan, saya masih terus bertanya-tanya bagaimana ini bisa terjadi pada saya, sedangkan pada saat melahirkan kedua anak sebelumnya semua tidak ada masalah. 
Saya kemudian menanyakan hal tersebut via email ke faskes dimana saya melahirkan. Dan berikut ini jawabannya: 

 “Bagaimana bisa ada plasenta yang tertinggal?”

Kondisi tertinggalnya plasenta sangat bisa terjadi. Kejadiannya lumayan banyak sekitar 23-24% dari persalinan normal di seluruh dunia. Untuk lebih jelasnya berikut penjabaran teori tentang sisa placenta atau dalam dunia medis sering kita sebut “Retensi Sisa Placenta / Rest Placenta”

Rest Placenta adalah tertinggalnya sebagian placenta dalam rahim yang disebabkan karena placenta yang tertanam terlalu dalam hingga menembus dinding myometrium (lapisan yang agak dalam dari rahim). Hal ini bisa menyebabkan perdarahan pasca persalinan dini (dalam 24 Jam pasca persalinan) atau perdarahan pasca persalinan lambat (terjadi dalam > 6 hari ke pasca persalinan).



Keterangan gambar: Accreta, Increta dan Percreta adalah tingkat kedalaman akar plasenta ke dinding rahim yang menyebabkan saat pengeluaran normal, memungkinkan sebagian plasenta tetap menempel di dinding rahim.


Faktor resiko terjadinya Rest Placenta antara lain : 

Usia ibu ( < 20 thn atau > 35 tahun ) bisa menyebabkan kondisi rahim kurang bagus untuk tempat perlekatan placenta, sehingga kontraksi rahim kurang adekuat/ kurang baik.
Hamil > 3 kali bisa menyebabkan placenta tumbuh di daerah tempat placenta tumbuh pada kehamilan sebelumnya, yang menyebabkan placenta akan tertanam lebih dalam pada dinding Rahim, yang bisa tertinggal saat proses persalinan berikutnya.
Kelahiran bayi yang terlalu cepat, ini akan mengganggu pemisahan placenta secara normal dari dinding rahim. 

Proses pengeluaran placenta yang terlalu terburu-buru.

Tanda-tanda klinis yang dicurigai adanya sisa placenta apabila ;

Adanya perdarahan aktif (berlebihan) setelah proses persalinan.
Perdarahan tidak normal yang terjadi pada hari ke > 6 pasca persalinan.
Tidak ada perdarahan akan tetapi tinggi fundus uteri (tinggi rahim) tidak sesuai dengan pengecilan rahim yang harusnya terjadi. 

Diketahui dengan USG sebagai penegakkan diagnosa

Itu penjelasannya.
Nah pada saya, rest placenta diketahui ketika saya kontrol setelah melahirkan, itu kira-kira hari ke-5 kalau tidak salah. Tidak ada pendarahan sih, tapi saat diperiksa ternyata fundus uteri tidak sesuai dengan pengecilan rahim yang harusnya terjadi. Kemudian di USG, dan memang rest placenta.

Begitulah ceritanya.
Apapun...pokoknya sehat-sehat selalu yaaa💙

Senin, 28 Agustus 2017

Selamat pagi dari lereng Menoreh


      Kabut dingin menyelimuti pagi di sebuah desa di lereng pegunungan Menoreh. Udara dingin tetap terasa meski sebuah jaket sudah melindungi tubuh saya, dan sejuknya embun di rerumputan menyentuh tiap langkah saya menuju sebuah lapangan di dekat sungai itu.
Menemukan tempat ini seperti oase di tengah sibuknya hari-hari biasa. Lalu aktifitas warga desa pagi ini benar-benar melengkapi euforia saya.


Merti Bumi Tinalah

Adalah sebuah kemeriahan di desa wisata, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai wujud syukur atas nikmat Sang Pencipta. Pukul 09.00 WIB, seluruh warga baik tua maupun muda, bahkan anak-anak berkumpul dalam rombongan dusun mereka. Menyajikan kekhasannya masing-masing dalam sebuah karnaval. Ada yang membawa miniatur rumah limasan, kayu, ogoh-ogoh dan sebagainya. Lalu yang tak ketinggalan adalah gunungan sayur mayur yang terdiri dari cabai, terong, kacang panjang, sawi, kobis dan lain-lain, yang nantinya akan diperebutkan warga di akhir acara.
Sebelum diperebutkan, terlebih dahulu dilaksanakan upacara labuhan, di sungai Tinalah, yang berada tidak jauh dari lapangan yang juga camping ground tersebut. Acara yang yang tentu saja tidak sepi, karena setelah upacara labuhan, beberapa dusun menampilkan pertunjukan. Ada geguritan, jathilan dan lain-lain.



                                 
                           
Tidak akan pernah habis menceritakan kayanya Indonesia. Jangankan Indonesia, Jogja saja begitu beragamnya. Terbukti di Jogja sebelah barat ini, mungkin belum semua tahu keindahan-keindahannya.
Masih di lereng Menoreh yang hijau... siapa yang pernah menikmati indahnya alam dari Puncak Kleco?
Saat pagi menanti sunrise, betapa nikmatnya menghirup udara sejuk segar dari atas bukit. Puncak Kleco sendiri berada tidak jauh dari lokasi Merti Bumi Tinalah tadi. Berjalan kurang lebih 2 kilometer ke arah timur. Tepatnya di dusun Duwet, desa Purwoharjo, Samigaluh. Jalan mendekati lokasi itu memang menanjak, tapi jangan khawatir karena warga setempat menyediakan jasa untuk mengantar sampai lokasi. Sampai di Puncak Kleco, ada banyak spot selfie. Dan jika lelah berfoto, kita bisa mencicipi masakan warga setempat. Di antaranya thiwul, kluban, ingkung ayam, sayur lodeh, tempe benguk dan lain-lain.
                     

Lereng menoreh memang menawan. Baik alamnya, ramah warganya maupun kulinernya.

Lokasi selanjutnya saat menyusuri jalan dari Samigaluh menuju Kalibawang. Ingin sekali mampir untuk membeli iwak kali duri lunak, untuk oleh-oleh saat pulang ke kota. Ada beberapa tempat yang menyediakan makanan itu. Saya mampir ke salah satunya. Lagi-lagi menemui keramahan pemiliknya. Bahkan saya diajak ke dapur, untuk melihat masakan yang baru saja matang. Ada tiga wajan besar, isi semur ayam, mangut iwak Melem, dan mangut Beong. Ibu sepuh itu mengatakan kepada saya, "Iki sik larang, mergane langka". ( Ini yang mahal karena langka)," katanya sambil menunjuk wajan besar berisi mangut Beong.

               

Dengan semangat ibu itu mengambil dua potong dan langsung memenuhi piring. Harga sepotong mangut iwak atau ikan Beong ini Rp.50.000. Saat mencicipinya, langsung terasa gurih dan pedas berpadu dengan kelembutan ikan, membuat saya asyik menikmatinya. Menurut ibu itu, Beong adalah ikan ukuran besar yang hidup di Sungai Progo, yang satu ekornya bisa mencapai berat 5 kg. Wow !
  Begitu juga dengan mangut Melem...yang sebenarnya adalah ikan dengan banyak duri. Tetapi dengan pengolahan sedemikian rupa, ternyata duri kemudian menjadi lunak dan tidak menyulitkan saat makan.

Sudah selesai menikmati semuanya, lalu saya melanjutkan perjalanan menuju kota. Betapa hari yang menyenangkan, mendapat pengalaman indah dan berkesan di kawasan lereng Menoreh. Sebuah tempat dengan beragam potensi dan kekayaannya. Berbagai profesi penduduknya dan indah adat budayanya. Itu ada di lereng Menoreh yang hijau. Selamat pagi, dari lereng Menoreh. Walaupun mungkin waktu beranjak siang bahkan malam, kesegaran suasananya selalu berkesan dalam ingatan.
Sebuah bukti, menjadi Jogja menjadi Indonesia, ditunjukkan oleh semangat para warga untuk selalu menjaga dan melestarikan alam sekitarnya. Menjadi Jogja menjadi Indonesia dengan munculnya kearifan lokal yang memperkaya negeri ini. Hari ini mungkin hanya cerita ini, tapi saya yakin, besok dan besok lagi, selalu ada cerita tentang pengalaman menarik dan tempat-tempat mengesankan di Jogja Istimewa ini. Karena Jogja bukan hanya perkotaan, bukan hanya pantai, bukan hanya sebuah nama Jogja. Di sudut-sudutnya, di balik perbukitan, di pinggir-pinggir kota, ada pesona yang menjanjikan. Menambah keberagaman dalam istimewanya Jogja, untuk Indonesia.




Kamis, 04 Mei 2017

Lipsense



           Apakah itu? Tiga benda mungil yang ada dalam genggamanku?
Seperti judul yang kutulis di atas, itulah Lipsense. Set lipstick, lip gloss dan lipstick remover. Yakin deh...cewek-cewek pasti punya, walau merk lain. Nggak percaya? Coba buka tas nya😀
Kenal sama Lipsense ini melalui teman di dunia maya, mak Wika, jaman dulu kami nge-blog nya di Multiply. Pokoknya penasaran banget, kepo banget sama Lipsense ini, apa lagi lihat testi, lihat foto saat digunakan, dan memang koleksi warnanya cantik-cantik. Aku saja sampai bingung memilih warna apa.
Sempat ragu sih, waktu baca beberapa review ada yang nggak cocok, ada yang cocok,  apalagi  harganya juga lumayan. Tapi mengingat kulitku yang cenderung bandel alias bisa gampang cocok sama berbagai produk, ditambah rasa penasaranku, ya sudah, beli. Lalu....aku memutuskan untuk memilih warna Summer Sunset. Summer sunset ini di bibirku warnanya kemudian menjadi pink dan merah, tergantung berapa lapis mengolesnya. Iya, karena pewarna bibir yang satu ini hasilnya belum tentu sama saat di pakai orang yang berbeda.
               
                   

Foto di atas aku memakai 3 lapis atau tiga kali oles Lipsense nya. Di aku mungkin jadi pink, di orang lain mungkin merah, atau merah bata. Itu tergantung warna dasar dan ph bibir masing-masing juga.
Lipsense ini juga sekaligus bisa merawat bibir dengan ada beberapa kandungan didalamnya, seperti vitamin dan lain-lain.
Cara memakainya pun beda dengan yang lain. Yaitu sekali harus jadi alias nggak bisa dikoreksi, kecuali menggunakan removernya. Jadi, ambil Lipsense, oles sekali di bibir atas dimulai dari bagian tengah bibir, sapukan ke kiri dan ke kanan. Lalu kalau bibir bagian bawah, oles sekali mulai dari sudut bibir. Ulangi lagi satu atau dua kali...dan jangan mengatupkan bibir ya! Karena setelah beberapa detik kemudian, kita perlu mengoleskan lipgloss nya. Karena memang, Lipsense dan Lipgloss nya adalah tak terpisahkan. Dan ini tahan lama, lebih dari 18 jam. Sehingga misalnya selesai sholat atau habis makan, nggak perlu dioles Lipsensenya, cukup Lipglossnya saja. Memang disarankan untuk sering memakai lipsgloss biar nggak kering. Lipgloss nya pun unik...kalau dioles, dia akan mempercantik warna Lipsense nya.
Nah...cara menghapusnya pun beda. Yaitu dengan busa pasta gigi. Jadi saat kita menyikat gigi, busanya ditempel ke bibir, lalu Lipsense nya akan terhapus dan bibir pun terasa lebih lembab, lebih halus.
Begituuuu. Ada yang pernah pakai Lipsense juga????


                               


Selasa, 02 Mei 2017

Escape! Sambil ngopi.

Hari itu rasanya seperti petualang yang tersesat di sebuah tempat yang diharapkan.
Jam 12.00 WIB berangkat dari Jogja, bingung antara mau menyusul anak-anak ke Mangrove dan pantai Glagah Kulonprogo. Atau kemana. Akhirnya, aku dan suamiku, sepakat untuk menghabiskan waktu dengan minum kopi di pedesaan. Biarlah anak-anak yang sedang ikut liburan pakdhe nya, nanti langsung pulang ke rumah ibu. Mumpung lagi ada kesempatan berduaan denfan pak suami...jalan-jalan ah. Cari udara segar dan pemandangan hijau. Jadilah kami menuju arah barat. Iya, ke arah Samigaluh, Kulonprogo, untuk ngopi di warung kopi pak Rohmat. Dan karena tahu bahwa jalan yang akan kami lalui naik turun dan sempit, ya udah naik motor deh jadinya.
Dari Jogja udara panas luar biasa...untung nggak begitu ramai. Lancar. Lewat jalan Godean, lalu ke barat terus lewat jembatan Kebonagung dan sampailah di Dekso. Capeknya...dan perjalanan masih jauh. Pak suami ngantuk pengen tidur sebentar katanya. Lama kami berjalan, melewati persawahan dan kebun-kebun hijau. Kami lalu berhenti di sebuah pos ronda yang bersih.




Pak suami istirahat, rebahan. Dan aku ...maksud hati mau bermedsos ria...apa daya signal seluler tak ada. Jadilah bengong sembari selfie sementara pak suami tidur.
Sunyi sekali tempat itu, tidak ada bus, tidak ada angkutan. Hanya sesekali orang bersepeda motor melintas, orang bersepeda, orang membawa rumput...sunyi.
Beberapa saat kemudian setelah dirasa cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan.
Akhirnya...kami sampai di tempat tujuan, Kopi Pak Rohmat. Sebuah rumah, yang dikelilingi kebun dan kanan kirinya ada bangunan atau ruang untuk ngopi. Ada yang lesehan, ada pula yang menggunakan meja kursi. Kami memilih yang lesehan dong, supaya bisa meluruskan kaki setelah lelah di perjalanan.
Lalu seorang ibu menyambut kami, menyalami, dan menyodorkan menu.
Aku memesan kopi susu...biar nggak pahit-pahit amat...eaaa! Suami pesan susu jahe plus camilan. Untuk makannya aku pesan nasi, sayur lompong dan rica-rica enthok. Suami pesan nasi, sayur lompong dan pindang.
Sembari menunggu pesanan datang, aku memperhatikan sekitar. Banyak juga yang datang ngopi siang itu. Dan kalau menyimak bahasanya, mereka bukan orang sekitar. Mereka nampak menikmati suasana di situ. Ngopi di tempat yang agak terpencil, mendengar desau angin, dan dan gemericik air di sungai kecil di dekat tempat itu.

Lalu pesanan kami pun datang.




Dengan penyajian khas, ada kopi susu, kopi jahe, lalu yang di gelas-gelas kecil itu ada gula aren, gula pasir, dan satu lagi, semacam gula merah yang dilelehkan. Lalu camilannya ada geblék, tahu susur mini, singkong rebus -yang kata suamiku enak dan dihabiskannya..duh! Dan ada kacang rebus juga. Semua hangat.

Lalu makanannya

Ini pesananku, nasi, sayur lompong dan rica-rica enthok. Nah...pesanan suamiku lupa nggak kefoto, karena langsung disantap...haha...laper, pak?!
Mau tau rasanya? Heeemmm....enak!! Lelah dan penat di perjalanan. Lalu ketemu kopi,  camilan yang khas, makanan lezat, ditambah suasana hijau pedesaan..itu benar-benar bikin hati senang.
Ternyata semakin sore, makin banyak juga orang yang datang. Boleh juga tempat ini. Mungkin bagi sebagian orang, ini cuma rumah dan kebun biasa. Tapi ternyata tempat ini memang menarik. Terbukti banyak yang datang ke sini.


Lalu, kami ketemu juga sama pemiliknya, yaitu Pak Rohmat. Kami ngobrol sebentar, lalu berfoto. Orangnya ramah, semua yang menyambut kami di situ juga ramah.
Melihat Pak Rohmat sore itu, seperti seseorang yang sudah menemukan passionnya. Menikmati aktivitasnya membuat kopi dan menjamu tamu-tamunya.
Kami pulang, pak Rohmat..dan terimakasih ya, untuk kopi dan suasananya.


                              💖💖💖


Senin, 03 April 2017

Bermain di Bumi Merapi

Bumi Merapi.
Sudah lama ingin kesana, tapi ternyata baru Minggu pagi kemarin kesampaian.
Inginnya sih, kalau libur bisa ajak anak-anak ke tempat dimana mereka bisa berinteraksi dengan apa yang ada di tempat tersebut. Jadi nggak cuma tempat main yang kekinian saja, tapi lebih ke tempat dimana mereka bisa bermain dan belajar.
Jam 08.45 WIB, berangkat ke Bumi Merapi, di Jl. Kaliurang km 20, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY.
Anak-anak riang gembira lah ya mau jalan-jalan, apalagi sebelumnya saya sudah kasih gambaran ke mereka seperti apa tempat itu, dan mereka sudah lihat foto-fotonya di internet. Antusias!
Perjalanannya lancar, tapi karena kami belum pernah kesana, ya harus bertanya dulu ke salah seorang petani di sekitar Jakal km 20 itu.
Dan.....sampailah kami di bumi perkemahan Bumi Merapi.
Hari itu di Bumi Merapi ada tenda-tenda di sebelah utara, mungkin ada yang kemping. Dan ramai juga oleh rombongan ibu-ibu yang outbond di sana.






Beli tiketnya 4 tiket ( 2 dewasa dan 2 anak-anak) totalnya Rp.60.000.
Lalu kami mulai masuk ke lokasi,jalan-jalan melihat taman yang asri, dan ditunggui sama Gunung Merapi yang gagah berdiri di sebelah utaranya. Anak-anak langsung lari kegirangan. Yang dituju pertama kali adalah Dunia Kelinci, dimana di situ ada peternakan kelinci, dan juga ada tanah lapang untuk anak-anak bisa mengejar-ngejar kelinci. Sambil membawa tanaman kangkung yang sudah disediakan, anak-anak memberi makan kelinci. Lalu sibuk mengejar kelinci, dan mencoba menggendong kelinci dengan dibantu petugas disitu.Yudha ( 8 th) seneng banget sama kelinci, dielus-elus, dan bisa menggendong kelincinya. Nah kalau Altaf ( 4th, 6 bulan )..agak takut-takut memegangnya, bahkan sempat lari terbirit-birit saat seekor kelinci mengejarnya, padahal kan si kelinci cuma mau kangkung yang dia pegang...hihi. Saya lupa bertanya jenis kelincinya apa, tapi agak besar sih ukurannya. Altaf belum bisa menggendongnya.





Setelah puas bermain dengan kelinci, kami pindah ke tempat kambing. Di sana anak-anak memberi susu ke kambing, dengan menggunakan dot. Tapi, dot nya harus beli Rp.2500. Lucu aja lihat kambing nge-dot^^
Ini dia gambarnya...





Setelah itu, kami pindah lagi ke tempat khusus reptil. Ada Iguana, ular sanca dan lain-lain yang di tempatkan di ruang kaca. Lalu ada kura-kura juga di kolam kecil. Nah..yang menyenangkan anak-anak adalah seekor ular Pyton albino yang bisa dipegang dan diajak berfoto. Benar-benar menyenangkan bagi mereka, tapi kalau saya sih ngeri...pegang aja enggak.





Saking asyiknya nggak terasa waktu mulai siang, dan anak-anak bertanya-tanya dimana bisa naik kuda poni. Ternyata di luar lokasi. Lalu kami kesana, membeli tiket lagi, masing-masing Rp.10.000.
Ini yang paling mereka tunggu sih sedari rumah, ingin naik kuda poni. Asyiknyaaa...keliling desa! Eh ya nggak keliling desa juga sih.., nggak jauh kok muternya, jangan khawatir. Altaf dan Yudha bergantian naiknya. Dan mereka bahagia sekali, senyum terus.




Nah, selesailah sudah main-mainnya hari itu. Kami menukar tiket tadi dengan susu, iya, ternyata tiketnya bisa ditukar susu kambing saat pulang.Seru !! Hal yang biasa mungkin ya, bermain dengan hal-hal tadi, tapi anak-anak suka, apalagi di rumah nggak ada hewan-hewan itu. Di Bumi Merapi fasilitasnya juga oke, selain beberapa tempat untuk bermain sambil belajar tadi, ada juga area outbond, sayangnya lagi diperbaiki kemarin, lalu ada restoran, mushola, dan toilet.
Kadang-kadang sih ya, untuk orang yang sehari-harinya dikepung tembok-tembok dan riwehnya kota, ingin sesekali ke pinggir, ke pedesaan,  mencari udara sejuk, pemandangan hijau dan udara segar

Oh ya, yang tinggal di desa juga harusnya bersyukur, dengan kealamian yang masih terjaga. Dan kalau dikelola, bisa jadi tempat piknik yang menyenangkan.




                                                       *************            





Jumat, 31 Maret 2017

Secuil hati

 [ Fiksi ]

  Minggu siang di sebuah tempat makan dekat UGM. Aku janjian sama Octa
dan Ben.
10 menit lewat dari jam yang ditentukan. Heeemm.....ngeselin!
Tring...handphone berdering. Hanya whatsapp ternyata. Dan masih dari nomer yang sama.

"Haaaaiiii !!! Sorry telat. Ben kelamaan dandannya, "centil suara Octa tergopoh-gopoh menghampiriku. Disusul Ben yang cengar-cengir di belakangnya.
Tring...hp ku berbunyi lagi. Pasti dari orang itu lagi.

     "Mas kangen, sayang..."
"Heiii, kamu masih lanjut komunikasi ama dia??? Astaga, Yuna! Tugas kita udah selesai lho. Dan kamu masih wa terus sama Om Haris. Ketauan istrinya mampus kamu." Dan masih panjaaang lagi omelan Octa dan Ben silih berganti memarahiku.
Iya. Aku Yuna. Kami bertiga, aku, Octa dan Ben tadinya bikin survey untuk sebuah kepentingan. Survey tentang seberapa bisa seseorang menceritakan kehidupan pribadinya ke orang asing, orang yang baru dikenalnya.
Aku sendiri nggak kenal Om Haris. Ben yang memperkenalkan kami. Octa sendiri bersama Pak Gani. Sementara Ben hubungannya dengan Bu Yekti. Hubungan disini maksudnya adalah...intens berkomunikasi via teknologi. Pokoknya panjang ceritanya.

"Ben, mana hasilmu?", tanyaku. "Kamu juga, Octa.
Lalu mereka membuka laptop masing-masing, dan menyodorkan hasil kerjanya padaku.

"Gila ya Ben...Bu Yekti bisa begini amat komunikasinya ama kamu. Curhatnya panjang, "kataku. Dan Octa....datar-datar aja ya, kamu.

"Makanya, Yuna, aku lega saat semua selesai. Bebas.," kata Ben.
"Dan Pak Gani itu orang baik, Yuna...lurus, standar, nggak macem-macem ama cewek." kata Octa

"Beda sama Om Haris, teman-teman...dia manis banget omongannya. Hanyut aku jadinya. Eh...hampir hanyut. Untung nggak jadi." Aku meringis. Karena tentu saja dua temanku ini membully habis-habisan.
 "Tapi...aku harus berterima kasih untuk tugas ini. karena membawaku pada satu penemuan luar biasa tentang hati. Secuil hati yang mungkin kosong. Hati siapa? Panjang ceritanya."

"Yuna ngomong apa sih, Ben?" Sindir Octa usil
"Makanya, besok aja ya kuceritakan. Karena saat ini kita kan sangat sibuk menyusun tugas ini," kataku.

Handphone ku lagi-lagi berdering. Masih dari nomer yang sama.

.............................................( to be continued)