Senin, 28 Agustus 2017

Selamat pagi dari lereng Menoreh


      Kabut dingin menyelimuti pagi di sebuah desa di lereng pegunungan Menoreh. Udara dingin tetap terasa meski sebuah jaket sudah melindungi tubuh saya, dan sejuknya embun di rerumputan menyentuh tiap langkah saya menuju sebuah lapangan di dekat sungai itu.
Menemukan tempat ini seperti oase di tengah sibuknya hari-hari biasa. Lalu aktifitas warga desa pagi ini benar-benar melengkapi euforia saya.


Merti Bumi Tinalah

Adalah sebuah kemeriahan di desa wisata, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai wujud syukur atas nikmat Sang Pencipta. Pukul 09.00 WIB, seluruh warga baik tua maupun muda, bahkan anak-anak berkumpul dalam rombongan dusun mereka. Menyajikan kekhasannya masing-masing dalam sebuah karnaval. Ada yang membawa miniatur rumah limasan, kayu, ogoh-ogoh dan sebagainya. Lalu yang tak ketinggalan adalah gunungan sayur mayur yang terdiri dari cabai, terong, kacang panjang, sawi, kobis dan lain-lain, yang nantinya akan diperebutkan warga di akhir acara.
Sebelum diperebutkan, terlebih dahulu dilaksanakan upacara labuhan, di sungai Tinalah, yang berada tidak jauh dari lapangan yang juga camping ground tersebut. Acara yang yang tentu saja tidak sepi, karena setelah upacara labuhan, beberapa dusun menampilkan pertunjukan. Ada geguritan, jathilan dan lain-lain.



                                 
                           
Tidak akan pernah habis menceritakan kayanya Indonesia. Jangankan Indonesia, Jogja saja begitu beragamnya. Terbukti di Jogja sebelah barat ini, mungkin belum semua tahu keindahan-keindahannya.
Masih di lereng Menoreh yang hijau... siapa yang pernah menikmati indahnya alam dari Puncak Kleco?
Saat pagi menanti sunrise, betapa nikmatnya menghirup udara sejuk segar dari atas bukit. Puncak Kleco sendiri berada tidak jauh dari lokasi Merti Bumi Tinalah tadi. Berjalan kurang lebih 2 kilometer ke arah timur. Tepatnya di dusun Duwet, desa Purwoharjo, Samigaluh. Jalan mendekati lokasi itu memang menanjak, tapi jangan khawatir karena warga setempat menyediakan jasa untuk mengantar sampai lokasi. Sampai di Puncak Kleco, ada banyak spot selfie. Dan jika lelah berfoto, kita bisa mencicipi masakan warga setempat. Di antaranya thiwul, kluban, ingkung ayam, sayur lodeh, tempe benguk dan lain-lain.
                     

Lereng menoreh memang menawan. Baik alamnya, ramah warganya maupun kulinernya.

Lokasi selanjutnya saat menyusuri jalan dari Samigaluh menuju Kalibawang. Ingin sekali mampir untuk membeli iwak kali duri lunak, untuk oleh-oleh saat pulang ke kota. Ada beberapa tempat yang menyediakan makanan itu. Saya mampir ke salah satunya. Lagi-lagi menemui keramahan pemiliknya. Bahkan saya diajak ke dapur, untuk melihat masakan yang baru saja matang. Ada tiga wajan besar, isi semur ayam, mangut iwak Melem, dan mangut Beong. Ibu sepuh itu mengatakan kepada saya, "Iki sik larang, mergane langka". ( Ini yang mahal karena langka)," katanya sambil menunjuk wajan besar berisi mangut Beong.

               

Dengan semangat ibu itu mengambil dua potong dan langsung memenuhi piring. Harga sepotong mangut iwak atau ikan Beong ini Rp.50.000. Saat mencicipinya, langsung terasa gurih dan pedas berpadu dengan kelembutan ikan, membuat saya asyik menikmatinya. Menurut ibu itu, Beong adalah ikan ukuran besar yang hidup di Sungai Progo, yang satu ekornya bisa mencapai berat 5 kg. Wow !
  Begitu juga dengan mangut Melem...yang sebenarnya adalah ikan dengan banyak duri. Tetapi dengan pengolahan sedemikian rupa, ternyata duri kemudian menjadi lunak dan tidak menyulitkan saat makan.

Sudah selesai menikmati semuanya, lalu saya melanjutkan perjalanan menuju kota. Betapa hari yang menyenangkan, mendapat pengalaman indah dan berkesan di kawasan lereng Menoreh. Sebuah tempat dengan beragam potensi dan kekayaannya. Berbagai profesi penduduknya dan indah adat budayanya. Itu ada di lereng Menoreh yang hijau. Selamat pagi, dari lereng Menoreh. Walaupun mungkin waktu beranjak siang bahkan malam, kesegaran suasananya selalu berkesan dalam ingatan.
Sebuah bukti, menjadi Jogja menjadi Indonesia, ditunjukkan oleh semangat para warga untuk selalu menjaga dan melestarikan alam sekitarnya. Menjadi Jogja menjadi Indonesia dengan munculnya kearifan lokal yang memperkaya negeri ini. Hari ini mungkin hanya cerita ini, tapi saya yakin, besok dan besok lagi, selalu ada cerita tentang pengalaman menarik dan tempat-tempat mengesankan di Jogja Istimewa ini. Karena Jogja bukan hanya perkotaan, bukan hanya pantai, bukan hanya sebuah nama Jogja. Di sudut-sudutnya, di balik perbukitan, di pinggir-pinggir kota, ada pesona yang menjanjikan. Menambah keberagaman dalam istimewanya Jogja, untuk Indonesia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar