Jumat, 31 Maret 2017

Secuil hati

   Minggu siang di sebuah tempat makan dekat UGM. Aku janjian sama Octa
dan Ben.
10 menit lewat dari jam yang ditentukan. Heeemm.....ngeselin!
Tring...handphone berdering. Hanya whatsapp ternyata. Dan masih dari nomer yang sama.

"Haaaaiiii !!! Sorry telat. Ben kelamaan dandannya, "centil suara Octa tergopoh-gopoh menghampiriku. Disusul Ben yang cengar-cengir di belakangnya.
Tring...hp ku berbunyi lagi. Pasti dari orang itu lagi.

     "Mas kangen, sayang..."
"Heiii, kamu masih lanjut komunikasi ama dia??? Astaga, Yuna! Tugas kita udah selesai lho. Dan kamu masih wa terus sama Om Haris. Ketauan istrinya mampus kamu." Dan masih panjaaang lagi omelan Octa dan Ben silih berganti memarahiku.
Iya. Aku Yuna. Kami bertiga, aku, Octa dan Ben tadinya bikin survey untuk sebuah kepentingan. Survey tentang seberapa bisa seseorang menceritakan kehidupan pribadinya ke orang asing, orang yang baru dikenalnya.
Aku sendiri nggak kenal Om Haris. Ben yang memperkenalkan kami. Octa sendiri bersama Pak Gani. Sementara Ben hubungannya dengan Bu Yekti. Hubungan disini maksudnya adalah...intens berkomunikasi via teknologi. Pokoknya panjang ceritanya.

"Ben, mana hasilmu?", tanyaku. "Kamu juga, Octa.
Lalu mereka membuka laptop masing-masing, dan menyodorkan hasil kerjanya padaku.

"Gila ya Ben...Bu Yekti bisa begini amat komunikasinya ama kamu. Curhatnya panjang, "kataku. Dan Octa....datar-datar aja ya, kamu.

"Makanya, Yuna, aku lega saat semua selesai. Bebas.," kata Ben.
"Dan Pak Gani itu orang baik, Yuna...lurus, standar, nggak macem-macem ama cewek." kata Octa

"Beda sama Om Haris, teman-teman...dia manis banget omongannya. Hanyut aku jadinya. Eh...hampir hanyut. Untung nggak jadi." Aku meringis. Karena tentu saja dua temanku ini membully habis-habisan.
 "Tapi...aku harus berterima kasih untuk tugas ini. karena membawaku pada satu penemuan luar biasa tentang hati. Secuil hati yang mungkin kosong. Hati siapa? Panjang ceritanya."

"Yuna ngomong apa sih, Ben?" Sindir Octa usil
"Makanya, besok aja ya kuceritakan. Karena saat ini kita kan sangat sibuk menyusun tugas ini," kataku.

Handphone ku lagi-lagi berdering. Masih dari nomer yang sama.

.............................................( to be continued)



Kamis, 09 Maret 2017

Gabung Kelas Inspirasi.

  Sebenarnya....saya lupa kapan kenal Kelas Inspirasi, khususnya Kelas Inspirasi Yogyakarta. Yang jelas, waktu itu seorang teman bercerita, betapa ia terkesan dengan Kelas Inspirasi ini. Dia senang bisa memperkenalkan profesinya ke anak-anak SD. Lalu tahun kemarin, 2016, saya tahu ada rekruitmen relawan pengajar. Ahaaa!!
Lalu saya mendaftar, dengan mengisi form online yang ada. Lalu menunggu.
Setelah menunggu beberapa waktu, pada saat hari pengumuman, saya melihat nama Hetty tercantum di daftar relawan pengajar yang lolos seleksi. Bahagianya....!!!
Lalu saya juga menerima email dari panitia, yang menginformasikan bahwa saya lolos, dan harus mempersiapkan beberapa hal. Tahapan yang selanjutnya saya lewati adalah technical meeting, penentuan kelompok dan informasi dimana saya akan di tempatkan. Dan untuk tahun 2017 ini, saya dan tim yang terdiri dari profesional dari berbagai bidang dan kota. Jadi tidak semuanya dari atau tinggal di Jogja. Kebetulan di tim saya ada yang dari Jogja, Bandung, Jakarta dan Medan. Hanya saya, yang dari Medan harus mengundurkan diri karena ada kesibukan saat hari H, Hari Inspirasi.

Foto di atas adalah saat saya dan tim, untuk pertama kalinya berjumpa saat technical meeting di Gedung Disdikpora DIY. Juga pertama kalinya bertemu dengan perwakilan dari SD Negeri Puleireng, Tepus, Gunungkidul, SD dimana kami ditempatkan.

Lalu, selanjutnya kami harus sering ketemuan untuk berdiskusi. Kalau memungkinkan, ketemu di cafe seperti ini. Dan kami juga setiap malam berdiskusi di grup WA, untuk membahas apa saja yang harus disiapkan, dan lain sebagainya.
Grup WA sangat membantu, mengingat anggota tim masih banyak berada di kota masing-masing.

Sampai tiba waktunya, seluruh anggota tim, yang terdiri dari relawan pengajar, relawan fotografer, relawan videografer, dan fasilitator, harus tiba di Jogja H-1 sebelum Hari Inspirasi. Beruntung ada teman yang rumahnya luas dan siap menampung seluruh relawan untuk menginap di sana. Ini memang sudah kami bicarakan, bahwa kami sepakat untuk berangkat Subuh dari Jogja, daripada menginap di rumah warga di Tepus.



Ini malam sebelum Hari Inspirasi. Malam yang sibuk, karena semua orang mempersiapkan perlengkapan dan peralatan mengajarnya masing-masing. Saya sendiri tidak ikut menginap di situ, karena rumah di Jogja.


Tuh kan...Subuh berangkatnya, setelah mampir ke basecamp di rumah teman, sholat Subuh, lalu berangkat. Sarapan aja di mobil.
Begitulah...seru, sibuk, lelah...malemnya, lalu paginya semua sibuk mengajar. Sehari mengajar, sehari menginspirasi, bercerita ke anak-anak SD itu, tentang profesi kita.
Ceritanya ada di tulisan sebelumnya😉.
Beruntung SD tempat kami mengajar ternyata dekat dengan pantai. Jadilah seusai mengisi Hari Inspirasi, kami langsung cap cuuuus ke pantai terdekat, yaitu Pantai Sadranan.


Terimakasiiiiih...untuk semua. Membahagiakan, bergabung dengan Kelas Inspirasi, bukan demi eksistensi, tetapi demi anak-anak SD yang masih begitu panjang langkahnya meraih cita-cita.
Kami hanya berbagi cerita tentang profesi kami dan bagaimana kami bekerja. Kami juga hanya bisa mendorong, mendukung dan menyemangati anak-anak SD itu untuk bersemangat meraih cita-citanya.
Jadi temans...kalau mau bergabung di Kelas Inspirasi, coba cari di kotamu. Kalau Jogja, bisa follow fb Kelas Inspirasi Yogyakarta😉😉😉