Kamis, 04 Mei 2017

Lipsense



           Apakah itu? Tiga benda mungil yang ada dalam genggamanku?
Seperti judul yang kutulis di atas, itulah Lipsense. Set lipstick, lip gloss dan lipstick remover. Yakin deh...cewek-cewek pasti punya, walau merk lain. Nggak percaya? Coba buka tas nya😀
Kenal sama Lipsense ini melalui teman di dunia maya, mak Wika, jaman dulu kami nge-blog nya di Multiply. Pokoknya penasaran banget, kepo banget sama Lipsense ini, apa lagi lihat testi, lihat foto saat digunakan, dan memang koleksi warnanya cantik-cantik. Aku saja sampai bingung memilih warna apa.
Sempat ragu sih, waktu baca beberapa review ada yang nggak cocok, ada yang cocok,  apalagi  harganya juga lumayan. Tapi mengingat kulitku yang cenderung bandel alias bisa gampang cocok sama berbagai produk, ditambah rasa penasaranku, ya sudah, beli. Lalu....aku memutuskan untuk memilih warna Summer Sunset. Summer sunset ini di bibirku warnanya kemudian menjadi pink dan merah, tergantung berapa lapis mengolesnya. Iya, karena pewarna bibir yang satu ini hasilnya belum tentu sama saat di pakai orang yang berbeda.
               
                   

Foto di atas aku memakai 3 lapis atau tiga kali oles Lipsense nya. Di aku mungkin jadi pink, di orang lain mungkin merah, atau merah bata. Itu tergantung warna dasar dan ph bibir masing-masing juga.
Lipsense ini juga sekaligus bisa merawat bibir dengan ada beberapa kandungan didalamnya, seperti vitamin dan lain-lain.
Cara memakainya pun beda dengan yang lain. Yaitu sekali harus jadi alias nggak bisa dikoreksi, kecuali menggunakan removernya. Jadi, ambil Lipsense, oles sekali di bibir atas dimulai dari bagian tengah bibir, sapukan ke kiri dan ke kanan. Lalu kalau bibir bagian bawah, oles sekali mulai dari sudut bibir. Ulangi lagi satu atau dua kali...dan jangan mengatupkan bibir ya! Karena setelah beberapa detik kemudian, kita perlu mengoleskan lipgloss nya. Karena memang, Lipsense dan Lipgloss nya adalah tak terpisahkan. Dan ini tahan lama, lebih dari 18 jam. Sehingga misalnya selesai sholat atau habis makan, nggak perlu dioles Lipsensenya, cukup Lipglossnya saja. Memang disarankan untuk sering memakai lipsgloss biar nggak kering. Lipgloss nya pun unik...kalau dioles, dia akan mempercantik warna Lipsense nya.
Nah...cara menghapusnya pun beda. Yaitu dengan busa pasta gigi. Jadi saat kita menyikat gigi, busanya ditempel ke bibir, lalu Lipsense nya akan terhapus dan bibir pun terasa lebih lembab, lebih halus.
Begituuuu. Ada yang pernah pakai Lipsense juga????


                               


Selasa, 02 Mei 2017

Escape! Sambil ngopi.

Hari itu rasanya seperti petualang yang tersesat di sebuah tempat yang diharapkan.
Jam 12.00 WIB berangkat dari Jogja, bingung antara mau menyusul anak-anak ke Mangrove dan pantai Glagah Kulonprogo. Atau kemana. Akhirnya, aku dan suamiku, sepakat untuk menghabiskan waktu dengan minum kopi di pedesaan. Biarlah anak-anak yang sedang ikut liburan pakdhe nya, nanti langsung pulang ke rumah ibu. Mumpung lagi ada kesempatan berduaan denfan pak suami...jalan-jalan ah. Cari udara segar dan pemandangan hijau. Jadilah kami menuju arah barat. Iya, ke arah Samigaluh, Kulonprogo, untuk ngopi di warung kopi pak Rohmat. Dan karena tahu bahwa jalan yang akan kami lalui naik turun dan sempit, ya udah naik motor deh jadinya.
Dari Jogja udara panas luar biasa...untung nggak begitu ramai. Lancar. Lewat jalan Godean, lalu ke barat terus lewat jembatan Kebonagung dan sampailah di Dekso. Capeknya...dan perjalanan masih jauh. Pak suami ngantuk pengen tidur sebentar katanya. Lama kami berjalan, melewati persawahan dan kebun-kebun hijau. Kami lalu berhenti di sebuah pos ronda yang bersih.




Pak suami istirahat, rebahan. Dan aku ...maksud hati mau bermedsos ria...apa daya signal seluler tak ada. Jadilah bengong sembari selfie sementara pak suami tidur.
Sunyi sekali tempat itu, tidak ada bus, tidak ada angkutan. Hanya sesekali orang bersepeda motor melintas, orang bersepeda, orang membawa rumput...sunyi.
Beberapa saat kemudian setelah dirasa cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan.
Akhirnya...kami sampai di tempat tujuan, Kopi Pak Rohmat. Sebuah rumah, yang dikelilingi kebun dan kanan kirinya ada bangunan atau ruang untuk ngopi. Ada yang lesehan, ada pula yang menggunakan meja kursi. Kami memilih yang lesehan dong, supaya bisa meluruskan kaki setelah lelah di perjalanan.
Lalu seorang ibu menyambut kami, menyalami, dan menyodorkan menu.
Aku memesan kopi susu...biar nggak pahit-pahit amat...eaaa! Suami pesan susu jahe plus camilan. Untuk makannya aku pesan nasi, sayur lompong dan rica-rica enthok. Suami pesan nasi, sayur lompong dan pindang.
Sembari menunggu pesanan datang, aku memperhatikan sekitar. Banyak juga yang datang ngopi siang itu. Dan kalau menyimak bahasanya, mereka bukan orang sekitar. Mereka nampak menikmati suasana di situ. Ngopi di tempat yang agak terpencil, mendengar desau angin, dan dan gemericik air di sungai kecil di dekat tempat itu.

Lalu pesanan kami pun datang.




Dengan penyajian khas, ada kopi susu, kopi jahe, lalu yang di gelas-gelas kecil itu ada gula aren, gula pasir, dan satu lagi, semacam gula merah yang dilelehkan. Lalu camilannya ada geblék, tahu susur mini, singkong rebus -yang kata suamiku enak dan dihabiskannya..duh! Dan ada kacang rebus juga. Semua hangat.

Lalu makanannya

Ini pesananku, nasi, sayur lompong dan rica-rica enthok. Nah...pesanan suamiku lupa nggak kefoto, karena langsung disantap...haha...laper, pak?!
Mau tau rasanya? Heeemmm....enak!! Lelah dan penat di perjalanan. Lalu ketemu kopi,  camilan yang khas, makanan lezat, ditambah suasana hijau pedesaan..itu benar-benar bikin hati senang.
Ternyata semakin sore, makin banyak juga orang yang datang. Boleh juga tempat ini. Mungkin bagi sebagian orang, ini cuma rumah dan kebun biasa. Tapi ternyata tempat ini memang menarik. Terbukti banyak yang datang ke sini.


Lalu, kami ketemu juga sama pemiliknya, yaitu Pak Rohmat. Kami ngobrol sebentar, lalu berfoto. Orangnya ramah, semua yang menyambut kami di situ juga ramah.
Melihat Pak Rohmat sore itu, seperti seseorang yang sudah menemukan passionnya. Menikmati aktivitasnya membuat kopi dan menjamu tamu-tamunya.
Kami pulang, pak Rohmat..dan terimakasih ya, untuk kopi dan suasananya.


                              💖💖💖


Senin, 03 April 2017

Bermain di Bumi Merapi

Bumi Merapi.
Sudah lama ingin kesana, tapi ternyata baru Minggu pagi kemarin kesampaian.
Inginnya sih, kalau libur bisa ajak anak-anak ke tempat dimana mereka bisa berinteraksi dengan apa yang ada di tempat tersebut. Jadi nggak cuma tempat main yang kekinian saja, tapi lebih ke tempat dimana mereka bisa bermain dan belajar.
Jam 08.45 WIB, berangkat ke Bumi Merapi, di Jl. Kaliurang km 20, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY.
Anak-anak riang gembira lah ya mau jalan-jalan, apalagi sebelumnya saya sudah kasih gambaran ke mereka seperti apa tempat itu, dan mereka sudah lihat foto-fotonya di internet. Antusias!
Perjalanannya lancar, tapi karena kami belum pernah kesana, ya harus bertanya dulu ke salah seorang petani di sekitar Jakal km 20 itu.
Dan.....sampailah kami di bumi perkemahan Bumi Merapi.
Hari itu di Bumi Merapi ada tenda-tenda di sebelah utara, mungkin ada yang kemping. Dan ramai juga oleh rombongan ibu-ibu yang outbond di sana.






Beli tiketnya 4 tiket ( 2 dewasa dan 2 anak-anak) totalnya Rp.60.000.
Lalu kami mulai masuk ke lokasi,jalan-jalan melihat taman yang asri, dan ditunggui sama Gunung Merapi yang gagah berdiri di sebelah utaranya. Anak-anak langsung lari kegirangan. Yang dituju pertama kali adalah Dunia Kelinci, dimana di situ ada peternakan kelinci, dan juga ada tanah lapang untuk anak-anak bisa mengejar-ngejar kelinci. Sambil membawa tanaman kangkung yang sudah disediakan, anak-anak memberi makan kelinci. Lalu sibuk mengejar kelinci, dan mencoba menggendong kelinci dengan dibantu petugas disitu.Yudha ( 8 th) seneng banget sama kelinci, dielus-elus, dan bisa menggendong kelincinya. Nah kalau Altaf ( 4th, 6 bulan )..agak takut-takut memegangnya, bahkan sempat lari terbirit-birit saat seekor kelinci mengejarnya, padahal kan si kelinci cuma mau kangkung yang dia pegang...hihi. Saya lupa bertanya jenis kelincinya apa, tapi agak besar sih ukurannya. Altaf belum bisa menggendongnya.





Setelah puas bermain dengan kelinci, kami pindah ke tempat kambing. Di sana anak-anak memberi susu ke kambing, dengan menggunakan dot. Tapi, dot nya harus beli Rp.2500. Lucu aja lihat kambing nge-dot^^
Ini dia gambarnya...





Setelah itu, kami pindah lagi ke tempat khusus reptil. Ada Iguana, ular sanca dan lain-lain yang di tempatkan di ruang kaca. Lalu ada kura-kura juga di kolam kecil. Nah..yang menyenangkan anak-anak adalah seekor ular Pyton albino yang bisa dipegang dan diajak berfoto. Benar-benar menyenangkan bagi mereka, tapi kalau saya sih ngeri...pegang aja enggak.





Saking asyiknya nggak terasa waktu mulai siang, dan anak-anak bertanya-tanya dimana bisa naik kuda poni. Ternyata di luar lokasi. Lalu kami kesana, membeli tiket lagi, masing-masing Rp.10.000.
Ini yang paling mereka tunggu sih sedari rumah, ingin naik kuda poni. Asyiknyaaa...keliling desa! Eh ya nggak keliling desa juga sih.., nggak jauh kok muternya, jangan khawatir. Altaf dan Yudha bergantian naiknya. Dan mereka bahagia sekali, senyum terus.




Nah, selesailah sudah main-mainnya hari itu. Kami menukar tiket tadi dengan susu, iya, ternyata tiketnya bisa ditukar susu kambing saat pulang.Seru !! Hal yang biasa mungkin ya, bermain dengan hal-hal tadi, tapi anak-anak suka, apalagi di rumah nggak ada hewan-hewan itu. Di Bumi Merapi fasilitasnya juga oke, selain beberapa tempat untuk bermain sambil belajar tadi, ada juga area outbond, sayangnya lagi diperbaiki kemarin, lalu ada restoran, mushola, dan toilet.
Kadang-kadang sih ya, untuk orang yang sehari-harinya dikepung tembok-tembok dan riwehnya kota, ingin sesekali ke pinggir, ke pedesaan,  mencari udara sejuk, pemandangan hijau dan udara segar

Oh ya, yang tinggal di desa juga harusnya bersyukur, dengan kealamian yang masih terjaga. Dan kalau dikelola, bisa jadi tempat piknik yang menyenangkan.




                                                       *************            





Jumat, 31 Maret 2017

Secuil hati

   Minggu siang di sebuah tempat makan dekat UGM. Aku janjian sama Octa
dan Ben.
10 menit lewat dari jam yang ditentukan. Heeemm.....ngeselin!
Tring...handphone berdering. Hanya whatsapp ternyata. Dan masih dari nomer yang sama.

"Haaaaiiii !!! Sorry telat. Ben kelamaan dandannya, "centil suara Octa tergopoh-gopoh menghampiriku. Disusul Ben yang cengar-cengir di belakangnya.
Tring...hp ku berbunyi lagi. Pasti dari orang itu lagi.

     "Mas kangen, sayang..."
"Heiii, kamu masih lanjut komunikasi ama dia??? Astaga, Yuna! Tugas kita udah selesai lho. Dan kamu masih wa terus sama Om Haris. Ketauan istrinya mampus kamu." Dan masih panjaaang lagi omelan Octa dan Ben silih berganti memarahiku.
Iya. Aku Yuna. Kami bertiga, aku, Octa dan Ben tadinya bikin survey untuk sebuah kepentingan. Survey tentang seberapa bisa seseorang menceritakan kehidupan pribadinya ke orang asing, orang yang baru dikenalnya.
Aku sendiri nggak kenal Om Haris. Ben yang memperkenalkan kami. Octa sendiri bersama Pak Gani. Sementara Ben hubungannya dengan Bu Yekti. Hubungan disini maksudnya adalah...intens berkomunikasi via teknologi. Pokoknya panjang ceritanya.

"Ben, mana hasilmu?", tanyaku. "Kamu juga, Octa.
Lalu mereka membuka laptop masing-masing, dan menyodorkan hasil kerjanya padaku.

"Gila ya Ben...Bu Yekti bisa begini amat komunikasinya ama kamu. Curhatnya panjang, "kataku. Dan Octa....datar-datar aja ya, kamu.

"Makanya, Yuna, aku lega saat semua selesai. Bebas.," kata Ben.
"Dan Pak Gani itu orang baik, Yuna...lurus, standar, nggak macem-macem ama cewek." kata Octa

"Beda sama Om Haris, teman-teman...dia manis banget omongannya. Hanyut aku jadinya. Eh...hampir hanyut. Untung nggak jadi." Aku meringis. Karena tentu saja dua temanku ini membully habis-habisan.
 "Tapi...aku harus berterima kasih untuk tugas ini. karena membawaku pada satu penemuan luar biasa tentang hati. Secuil hati yang mungkin kosong. Hati siapa? Panjang ceritanya."

"Yuna ngomong apa sih, Ben?" Sindir Octa usil
"Makanya, besok aja ya kuceritakan. Karena saat ini kita kan sangat sibuk menyusun tugas ini," kataku.

Handphone ku lagi-lagi berdering. Masih dari nomer yang sama.

.............................................( to be continued)



Kamis, 09 Maret 2017

Gabung Kelas Inspirasi.

  Sebenarnya....saya lupa kapan kenal Kelas Inspirasi, khususnya Kelas Inspirasi Yogyakarta. Yang jelas, waktu itu seorang teman bercerita, betapa ia terkesan dengan Kelas Inspirasi ini. Dia senang bisa memperkenalkan profesinya ke anak-anak SD. Lalu tahun kemarin, 2016, saya tahu ada rekruitmen relawan pengajar. Ahaaa!!
Lalu saya mendaftar, dengan mengisi form online yang ada. Lalu menunggu.
Setelah menunggu beberapa waktu, pada saat hari pengumuman, saya melihat nama Hetty tercantum di daftar relawan pengajar yang lolos seleksi. Bahagianya....!!!
Lalu saya juga menerima email dari panitia, yang menginformasikan bahwa saya lolos, dan harus mempersiapkan beberapa hal. Tahapan yang selanjutnya saya lewati adalah technical meeting, penentuan kelompok dan informasi dimana saya akan di tempatkan. Dan untuk tahun 2017 ini, saya dan tim yang terdiri dari profesional dari berbagai bidang dan kota. Jadi tidak semuanya dari atau tinggal di Jogja. Kebetulan di tim saya ada yang dari Jogja, Bandung, Jakarta dan Medan. Hanya saya, yang dari Medan harus mengundurkan diri karena ada kesibukan saat hari H, Hari Inspirasi.

Foto di atas adalah saat saya dan tim, untuk pertama kalinya berjumpa saat technical meeting di Gedung Disdikpora DIY. Juga pertama kalinya bertemu dengan perwakilan dari SD Negeri Puleireng, Tepus, Gunungkidul, SD dimana kami ditempatkan.

Lalu, selanjutnya kami harus sering ketemuan untuk berdiskusi. Kalau memungkinkan, ketemu di cafe seperti ini. Dan kami juga setiap malam berdiskusi di grup WA, untuk membahas apa saja yang harus disiapkan, dan lain sebagainya.
Grup WA sangat membantu, mengingat anggota tim masih banyak berada di kota masing-masing.

Sampai tiba waktunya, seluruh anggota tim, yang terdiri dari relawan pengajar, relawan fotografer, relawan videografer, dan fasilitator, harus tiba di Jogja H-1 sebelum Hari Inspirasi. Beruntung ada teman yang rumahnya luas dan siap menampung seluruh relawan untuk menginap di sana. Ini memang sudah kami bicarakan, bahwa kami sepakat untuk berangkat Subuh dari Jogja, daripada menginap di rumah warga di Tepus.



Ini malam sebelum Hari Inspirasi. Malam yang sibuk, karena semua orang mempersiapkan perlengkapan dan peralatan mengajarnya masing-masing. Saya sendiri tidak ikut menginap di situ, karena rumah di Jogja.


Tuh kan...Subuh berangkatnya, setelah mampir ke basecamp di rumah teman, sholat Subuh, lalu berangkat. Sarapan aja di mobil.
Begitulah...seru, sibuk, lelah...malemnya, lalu paginya semua sibuk mengajar. Sehari mengajar, sehari menginspirasi, bercerita ke anak-anak SD itu, tentang profesi kita.
Ceritanya ada di tulisan sebelumnya😉.
Beruntung SD tempat kami mengajar ternyata dekat dengan pantai. Jadilah seusai mengisi Hari Inspirasi, kami langsung cap cuuuus ke pantai terdekat, yaitu Pantai Sadranan.


Terimakasiiiiih...untuk semua. Membahagiakan, bergabung dengan Kelas Inspirasi, bukan demi eksistensi, tetapi demi anak-anak SD yang masih begitu panjang langkahnya meraih cita-cita.
Kami hanya berbagi cerita tentang profesi kami dan bagaimana kami bekerja. Kami juga hanya bisa mendorong, mendukung dan menyemangati anak-anak SD itu untuk bersemangat meraih cita-citanya.
Jadi temans...kalau mau bergabung di Kelas Inspirasi, coba cari di kotamu. Kalau Jogja, bisa follow fb Kelas Inspirasi Yogyakarta😉😉😉

Senin, 27 Februari 2017

Kelas Inspirasi Yogyakarta 2017

   Tahun ini, ikut lagi Kelas Inspirasi Yogyakarta, sebagai relawan pengajar. Mengajar satu hari, bercerita tentang profesi. Nah, kalau tahun lalu dapet SD di Kota Jogja ( baca di sini),  kali ini harus minggir jauh ke Tepus, Gunungkidul. Sesuai temanya, Mimpi Tanpa Batas kali ya..tahun ini SD nya jauh-jauh di perbatasan^^
Hari Inspirasinya sih sudah tanggal 4 Februari yang lalu. Tapi belum sempat cerita...ya sekarang aja ya ceritanya. Siapa tau berguna untuk yang ingin ikut mendaftar relawan Kelas Inspirasi, baik di Jogja atau di kota lainnya. Bukan hal besar mungkin, tapi peduli dan sayang sama anak-anak itu penting.
Iya betul, penting, bukan supaya anak-anak itu  berprofesi seperti kita, tetapi lebih ke memberi motivasi, menanamkan nilai-nilai yang mendukung mereka untuk meraih cita-citanya, apapun itu. bahwa untuk sampai pada titik pencapaian itu, ada langkah yang harus ditempuh.

Sabtu, 4 Februari 2017

Pukul 06.30 WIB, tim saya sudah sampai di halaman SD N Puleireng, Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Cuaca gerimis, udara dingin. Anak-anak sudah mulai berdatangan ke sekolah, Ada yang diantar naik motor, ada yang jalan kaki, ada yang bermain di halaman sekolah, tanpa alas kakai. Ada juga yang piket, menyapu, mengepel, membersihkan kelas pagi-pagi. Senang melihat semangat anak-anak ini. 


Saya dapat jatah mengajar di tiga kelas, yaitu kelas 2, kelas 4 dan kelas 5.
Masuk ke kelas 2, semua mata tertuju pada diri saya...hehe
Biasa, sebagai orang baru, orang asing yang belum mereka kenal, pastinya anak-anak ini ingin tau siapa saya, dan mau apa datang ke kelas mereka. Setelah ice breaking, perkenalan, suasana sudah akrab, aaah...lucunya anak-anak ini. Anak kelas 2 ini antusias ingin tahu profesi saya sebagai penyiar. Apalagi ketika beberapa gambar berwarna, saya keluarkan dari tas saya. Gambar-gambar peralatan terkait siaran, seperti mixer, pemancar, radio, gambar orang siaran dll. Tentu dengan kekhasan anak-anak ya...konsen sebentar lalu berisik lagi. Anteng sebentar, lalu yang duduk di belakang mengeluarkan mainananya sendiri, robot-robotan...haha...jadi kebayang bapak-ibu guru harus mengeluarkan energi lebih untuk menghadapi anak-anak ini. Saat itulah saya keluarkan mic dan headset dari tas saya. Lagi-lagi mereka penasaran, ingin tau, fokus lagi deh. Lalu beberapa anak melakukan praktek siaran bersama saya.
Heeem...menyenangkan!!


 Masuk ke kelas 4
Kelas ini relatif lebih tenang dibanding kelas 2. Tapi tetap saja ya, anak-anak SD, suka ada yang sibuk sendiri. Jumlah siswa di kelas ini hanya 8 anak. Saat saya tanya apa cita-cita mereka, jawabanya pun bermacam-macam: dokter, guru, polisi, tentara, pilot, pramugari, koki. Tidak ada yang pingin jadi penyiar radio ya...haha...^^ Tetap, di kelas ini saya bermain-main dengan mereke. Sesekali di tengah saya menjelaskan profesi saya, kami melakukan ice breaking, tepuk-tepuk, tebak-tebakan dll supaya tidak bosan. Saat saya mempersilahkan anak-anak untuk bertanya, mereka menanyakan nomer hp saya..wah! " Bu, minta nomer hp nya."






Lalu saya masuk ke kelas 5.
Seperti kelas 4, kelas lima ini lebih anteng lagi. Mereka menyimak baik-baik saat saya menjelaskan apa itu penyiar radio, siapa saya, bagaimana saya bekerja dan sebagainya. Lagi-lagi saya tanya apa cita-cita mereka, umum sih, tapi ada satu yang berbeda, ada yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha sukses. Dia mengatakan ingin menjadi pengusaha kerajinana perak, rupanya dia terinspirasi sang ayah. Semoga sukses ya, nak!


Di setiap kelas juga saya selalu menanyakan, apakah kalian suka nonton tv? Nonton apa? Rata-rata menjawab judul-judul film kartun. Saat saya minta mereka untuk bernyanyi, yang muncul adalah lagu anak-anak: Pelangi, Bintang kecil. Serius, saya takjub! Di tengah gempuran informasi, dan berbagai tayangan di tv seperti sekarang ini, anak-anak ini tetap berada di dunianya. Tontonan anak, lagu anak...apa mungkin karena mereka berada di pinggiran kota. Dengan lingkungan yang mendukung mereka untuk menjalani hari-hari sebagai anak-anak sesungguhnya. Lingkungan pedesaan, banyak kebun, tanah lapang, bahkan sinyal hp pun sulit masuk. Entahlah...tapi ini memang berbeda.
Anak-anakku...sehat terus yaaa..semangat terus belajarnya, supaya kelak cita-citamu tercapai!!!


********************


Dan taukah? Bahwa  menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Yogyakarta 2017 ini sangat menyenangkan, memberi inspirasi tetapi juga akhirnya terinspirasi.
Ada cerita lain, tunggu di tulisan saya selanjutnya ya!







Jumat, 13 Januari 2017

Hati mulia wanita.

Malam mulai tua, lalu tiba-tiba ada dering di handphone. Ada pesan dari seorang perempuan, yang memintakan maaf suaminya karena sudah menggangguku.


******

Berawal dari seseorang yang telfon ke kantor dan meminta nomorku melalui teman. Seorang bapak-bapak yang katanya sering mendengarkan aku siaran.
Memang sejak itu, kadang ada pesan masuk di handphone ku, pesan nggak jelas yang entah apa maksudnya. Pesan bernada rayuan gombal yang tentu saja aneh dan bikin bengong. Lalu rupanya...mungkin handphone nya disita sang istri, lantas ibu ini kemudian menghubungiku via whatsapp.
Boleh aku menarik nafas sebentar?
Aku tersentuh dengan apa yang dilakukan sang istri ini. Dengan bahasa santun, mengikhlaskan suaminya berteman, sekaligus bilang kalau suaminya memang banyak tingkah. Hebat ya...bisa tenang begitu istrinya. Kalau aku yang jadi dia dan...amit-amit
..suamiku begitu, mungkin sudah kumaki-maki semuanya.
Aku tidak tahu, berapa banyak suami-suami yang iseng begitu, tapi sungguh...ini menguji pasangannya. Kalau saja masih pacar, mungkin bisa langsung putus, dan berlalu. Tapi ketika status sudah menikah, apalagi punya anak....entah bagaimana kehidupan selanjutnya dalam rumah tangga tersebut. Sebagai istri, mungkin ibu itu cukup dihantui kalau-kalau keisengan suaminya muncul lagi di lain hari, mungkin dengan wanita yang berbeda lagi. Lantas sampai kapan kekhawatiran itu akan menderanya? Apakah rumah tangganya bisa bahagia lagi?
Aku tidak bisa membayangkan kondisi itu.
Aku berdoa semoga ibu itu mendapat buah manis dari kesabarannya.
Dan aku belajar dari ini...tentang adanya laki-laki iseng.

Jumat, 06 Januari 2017

Sejatinya Kita

22.45 WIB

  Sebenarnya ini waktuku beranjak tidur.
Tapi entah mengapa tiba-tiba pikiran melayang ke tempat indah dekat Gunung Lawu sana.


Aku teringat cerita seorang bapak di sana. Yang aku lihat begitu menikmati hidup di masa tuanya. Setiap pagi, berkaos santai dan celana kulot, senyum dan menyapa ramah pada tamu-tamu yang menginap di rumahnya, sebuah homestay di pedesaan yang sejuk.
Siapa sangka dulu dia beberapa waktu bergelut dengan riuhnya ibukota, bekerja menjadi pimpinan perusahaan. Berkarir berpindah kota, hingga hidup bergelimang harta. Bahkan berteman dengan narkoba. Sampai berujung pada runtuhnya mahligai rumah tangga.
Hidup mungkin tak selamanya indah.
Tapi saat bapak ini bangkit, memulai lagi. Membuang sisa cerita lalunya, bersama pasangan baru, pergi dari kota besar dan berpindah ke pedesaan sunyi setelah menjual seluruh asetnya di kota. Dan ternyata, di pedesaan sepi inilah dia menemukan kedamaian.
Apakah boleh disamakan dengan hariku, atau hari-hari orang lain, yang terkadang jenuh dan ingin lari ke tempat sepi? Tempat yang menjanjikan kedamaian masa lalu, saat semua masih murni.
Alam dengan semua pohon hijau, air jernih dan segalanya
 Manusia di masa lalu, dengan segala perilaku yang terjaga, ramah dan punya rasa peduli.
Saat berada di tempat seperti itu, hati yang paling dalam menyadari bahwa duniawi itu tak ada apa-apanya. Semua yang dimiliki segala kemewahan harta, kekuasaan, kecantikan, tak ada artinya.
Sangat berbeda saat kita berada di tempat yang sibuk, hingar bingar, riuh dengan segala aktivitas duniawi manusia. Secara sadar atau tidak, kita menerima godaan yang menarik, menggiurkan. Harta, kekuasaan, kecantikan, yang semakin hari semakin beragam dan bertambah daya pikatnya. Siapa kuasa menolaknya, saat semua orang mengakui kebermanfaatannya dalam hidup di jaman kekinian. Dimana sampul, kemasan, penampilan, menjadi hal utama yang diperhatikan.
Aku...berada di sudut kota yang ramai. Tapi rasanya, setiap orang bisa mengambil celah, mencari waktu untuk menghadirkan sejenak kesunyian dalam putaran kesibukannya. Hanya untuk menarik nafas dalam-dalam dan memaknai untuk apa sejatinya manusia diberi nyawa dan waktu di dunia.
Dan malam ini, denyut kehidupan kota terus bergaung, namun semoga...kita sempat mencari detik untuk sejenak sunyi...dan berterimakasih pada Allah, bahwa kita masih diberi kesadaran untuk tidak hanyut dan larut dalam gemerlap cahaya duniawi.