Kamis, 29 September 2016

Semangat, Non!!

Siang ini cukup terik. Ketika tiba-tiba temanku lain kantor, Noni, tanpa diundang muncul di kantorku.
"Het, lunch yuk! Haus, pengen yang seger-seger. Laper, pengen yang enak-enak", katanya tanpa basa-basi.
Ya sudahlah, kayaknya bakal ditraktir nih, ya aku nurut aja, membuntutinya dengan manis.
Dan oh God...di mobilnya, di perjalanan cari tempat makan di sekitar Gejayan, tak henti Noni nyerocos dengan ceritanya. Panjaaaaang dan berliku^^
Intinya, kantornya goyah, ada rasionalisasi, dan dia salah satu dari tujuh orang yang terkena dampak rasionalisasi itu.

"Pokoknya sediiiih, Het. Aku dan teman-teman itu kan bukan kemaren sore aja mulai kerja di situ. Kami bertahun-tahun bersama, melalui semua suka dukanya dan pokoknya udah deh, cintaaa sama tempat itu. Tapi ya..gimana lagi, semua kan karena keadaan ya, cuma bisa nurut. Ya gitu deeeh, aku kamu..END. Gitu," katanya sambil terbahak.

Sampai batas kota arah Demangan, kami menunggu lampu merah. Dan aku, dengan setia dan tertib mendengarkan semua ceritanya.
Aku penasaran aja mengapa Noni ekspresinya biasa saja, tidak shock ataupun apa. Aneh gitu lho.
Saat aku menanyakan itu, dia menjawab," Sedih ya sedih, melow tauuu, ingat betapa suka dan bangganya aku sama kantorku. Tapi kemudian harus udahan.  Yaaa..walau memang sih namanya kerja, teman kerja, kadang ada enak nggak enaknya, ada cocok nggak cocoknya. Tapi tetep aja cinta."


.....



Sudah sampai di tempat makan, dan sudah terhidang makanan ini...heeemmm...
Sekilas aku melirik Noni yang lahap menyantap makanannya, seperti tanpa beban.
"Ayo dimakan, Het. Diet kamu?". Hahaaa...aku? Diet? Enggaklah, lalu aku menanyakan soal hak-hak dia sebagai karyawan.
"Baik kok..semuanya dikasih pesangon, jamsostek, apa ya, insentif, gaji terakhir dll. Mungkin itu yang bikin teman-temanku juga tabah. Tapi ya...melow juga sih, ya gimana... tiap hari kesana, ketemu, kerja, haha-hihi."

Terus? Kalian mau kemana, mau ngapain setelah ini, Non?

"Kalau teman-teman sih...ada yang ngajar, usaha, ya..pokoknya mereka ada sampingan sih memang sebelumnya. Kalau aku...ah nanti deh, tunggu aja ceritaku selanjutnya," katanya.

.......

See?
Rasionalisasi, restrukturisasi atau apalah namanya, yang berimbas pada karyawan, seperti menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian orang, dan tidak, bagi sebagian yang lain.
Ada yang pupus harapan, bahkan sampai stres, apalagi dia tulang punggung keluarga, tapi ada juga yang easy going dengan segala keoptimisannya, bahwa hidup tetap bisa dilalui tanpa hanya bergantung pada sesuatu yang bernama gaji. Karena rejeki itu memang sudah dijamin Allah. Manusia hanya perlu berusaha, melakukan sesuatu, berkarya, bergerak untuk menjemputnya.
Rumah tidak mungkin hanya mempunyai satu pintu untuk dia menjadi segar dan terang. Tapi ada jendela-jendela yang terbuka, yang memungkinkan cahaya masuk dan udara berganti. Mungkin ada pintu yang lain lagi, untuk dibuat agar semakin memperindah rumah itu.
Dear Non, maaf ya, aku menulis ceritamu, agar aku, dan yang membaca ini bisa belajar, dari cara kamu menyikapi semuanya.
Apapun, semoga kedepan kamu semakin sukses!!!





Selasa, 20 September 2016

Tak Kusangka

     Iyalah...judul ini mestinya mengindikasikan akan banyak hal-hal tak terduga yang kemudian terjadi.
Mungkin terlalu naif kalau aku memandang ini sebagai hal luar biasa. Tapi untukku, ini memang luar biasa.
 
Ingat waktu remaja dulu suka ngomong sendiri, suka merekam suara sendiri untuk kemudian didengar sendiri, sekarang...bisa didengar banyak orang.
Bahkan aku dibayar untuk itu, dan juga ada yang "membeli" suaraku.
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja ada yang selalu meminta suaraku untuk mengisi karya-karyanya.
Sehingga aku harus mengirim suaraku jauh ke pulau seberang.
Terimakasih ya Rabb, terimakasih juga untuk teknologi yang semakin canggih.



 https://www.youtube.com/watch?v=ZyS6oakyRdk


 https://www.youtube.com/watch?v=rgCrcZLnbvc

Namun semua tidak melulu soal uang, pernah suatu waktu, aku diminta membaca sebuah buku. Seluruh isi buku, mulai dari ilustrasi sampul, kata pengantar, daftar isi, semuanya itu harus aku baca detil, bahkan gambar/ilustrasi pun harus aku ubah ke kalimat melalui ucapanku secara jelas, semuanya direkam, untuk koleksi perpustakaan audio, untuk nantinya bisa digunakan oleh orang berkebutuhan khusus dalam penglihatan ( tuna netra ).  Saat itu aku terharu...dan berharap bisa banyak membantu.

 Mungkin ...aku belum sesibuk dan sesempurna profesional voice overist yang lain, tapi bisa mencicipi bidang ini, benar-benar sebuah pengalaman yang mahal untukku. Tidak menyangka kan, apa yang aku pikirkan dulu, aku khayalkan dulu, terwujud dalam bentuk ini di masa sekarang.

Nah, ada yang mau membuat sandiwara radio? Butuh pengisi suara iklan? Dubber? Colek aku yaaa ..hihi..