Kamis, 13 Maret 2014

Bahasa itu penting

Haiiii...selamat bulan Maret..xixixixi. Aduh lama ya nggak ketemu di blog. Maklum nih sibuk banget di dunia nyata, dan dunia maya sisi yang lain. Jadi tadi ceritanya, tengok-tengok blog kok 'ngglondhang' aja ga update-update, jadi malu.
Btw, ini saya nulis sambil bimbang, enaknya pakai bahasa baku atau bahasa obrol aja. Soalnya, pagi ini saya berbincang sama seseorang dari LP3Y, yaitu mas Dedi H Purwadi, dan ngobrol tentang jurnalisme. Ada keprihatinan terkait kualitas jurnalisme yang masih belum membaik, bahkan cenderung menurun. Ia mengatakan, seharusnya sebagai seorang jurnalis, harus menyadari dan selalu mengasah kemampuan berbahasa, jangan pernah mengabaikan kemampuan berbahasa dan mau selalu belajar. Karena, jurnalis membawa pesan/informasi yang akan disampaikan ke publik. Kalau salah dalam memberikan informasi, masyarakatlah yang juga akan ikut salah dalam memahami informasi tersebut. Ia mencontohkan ketika reporter memberitakan tentang busway, mungkin masyarakat akan menganggap busway itu adalah bus/ kendaraannya, padahal semestinya disebut TransJakarta, TransJogja, dll.
Mas Dedi mengatakan bahwa di Indonesia ini bahasa adalah nomer sekian, kalah dengan Matematika, Biologi dll. Padahal di Finlandia, bahasa sangat diperhatikan. Bahkan untuk masuk SMA saja, syaratnya harus menguasai bahasa Finlandia.
Nah, agar kualitas jurnalisme semakin baik, para jurnalis harus selalu mau belajar, media tempat dia bekerja pun harus memberi space pelatihan kepada jurnalisnya. Kalaupun tidak ada space itu, toh sekarang belajar nggak harus dalam bentuk workshop, tapi bisa juga melalui internet.
***
Pokoknya pagi ini judulnya saya harus ngaca, secara saya kan juga kerja di media ;)