Senin, 12 April 2010

Suriname

Apa hayo yang terbayang ketika ada dengar negara Suriname? Nama-nama bernuansa Jawa..such as..Prawiro, Notojoyo dll? Iya sih , mungkin itu salah satunya, karena Suriname identik dengan adanya populasi orang Jawa. Saya sempet wawancara dengan seorang dari warga negara Suriname, Marciano Dasai, yang sedang studi di UGM, yang juga bisa berbahasa Jawa 'ngoko'. Suriname adalah negara kecil di Amerika Selatan, dengan penduduk sekitar 500.00 orang (hah...dikit banget ya?)
Dan memang ada populasi 18% Jawa disana, yang tinggal di semacam desa-desa. Mereka beraktivitas biasa, bertani, berdagang, bahkan masuk di pemerintahan sebagai Menteri dll. Walau orang Jawanya  hanya sekitar 75 ribu orang...disana ada 3 stasiun TV Jawa. Lagu-lagunya juga beberapa berbahasa jawa, walaupun musiknya beragam, mulai dari campursari, sampai jazz kontemporer dengan lirik bahasa Jawa. Unik juga, coba deh search di You Tube or Google.
Kuliner? Naaah, menarik kalo ngomongin kuliner. Ternyata di Suriname, yang namanya bakmi goreng , nasi goreng tuh populer disana. Ada lagi telo teri, telo tau kan? ..ketela dan teri ya teri, tapi katanya teri di sana guedeee-guedee...setelapak tangan orang dewasa. Jadi telo teri adalah ketela yang dimakan dengan sambal teri...hmmm ... gimana ya rasanya??
Soal bisnis? Marciano mengatakan kalau di Suriname saat ini sedang berkembang industri kreatif, film,  musik dll. Produk Indonesia juga banyak diminati disana, mulai dari fashion, termasuk baju muslim, souvenir, kerajinan, tapi sayangnya barang-barang tersebut sedikit di sana. Itulah kenapa Marciano sempet ngirim barang-barang itu ke Suriname. Cuma ya itu tadi...mahal transportnya, udah gitu lama pula..lewat pos baru sampai tujuan sekitar 2 bulan. Kirim container sendiri pun butuh waktu sekitar sebulan. nah lho...Berniat bisnis dengan membidik pasar Suriname?? India dan China sudah duluan menjadikan Suriname sebagai "jalan tembus" menuju pasar Amerika dan Karibia.Di akhir wawancara, Marciano bilang bahwa banyak orang Suriname yang ingin ke Indonesia, hanya saja, berbagai informasi yang tak jelas tentang Indonesia membuat mereka ragu. Semoga dengan berbagai kerjasama yang terjalin, salah satunya pendidikan, bisa menjembatani hal tersebut. Apalagi kota Yogyakarta dan kota Commenwijne sudah menjadi Sister City.
Itulah sedikit isi dari wawancara saya dengan Marciano. Semoga bermanfaat ya...
Maturnuwun, Marciano...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar